Tanah Laut (5/3) – Lahan kering dan berbatu yang selama ini dianggap tidak produktif, ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber pangan masa depan. Hal tersebut dibuktikan oleh Ir. Anton Kuswoyo, S.Si., M.T., M.Pt., Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut, yang konsisten mengembangkan budidaya sorgum di lahan marjinal.
Berlokasi di Desa Ujung Batu, Kecamatan Pelaihari, Kamis (5/2/2026), Anton tampak memantau langsung perkembangan tanaman sorgum yang menjadi fokus riset sekaligus pengabdiannya kepada masyarakat. Meski dikenal sebagai tokoh organisasi keagamaan, Anton juga aktif melakukan penelitian terapan di bidang pangan dan pakan.
Upaya yang dilakukannya bukan tanpa prestasi. Pada tahun sebelumnya, Anton meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah BRIDA Kalimantan Selatan, melalui kajian tentang sorgum sebagai sumber pakan berenergi tinggi yang mampu tumbuh optimal di lahan pascatambang.
“Sorgum ini tanaman yang sangat tangguh. Di lahan kering dan miskin unsur hara, bahkan ketika jagung tidak mampu tumbuh, sorgum masih bisa berkembang dengan baik,” ujar Anton saat ditemui di lokasi penelitian.
Menurutnya, sorgum tidak hanya relevan untuk kebutuhan pakan ternak, tetapi juga memiliki prospek besar sebagai pangan alternatif bagi manusia. Beberapa hasil riset yang dilakukannya bahkan telah dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi.
“Biji sorgum bisa diolah menjadi beras atau tepung sebagai bahan pangan, seperti brownies dan cake. Kandungan gizinya baik, rendah kalori, dan bebas gluten. Ini sangat cocok untuk mendukung pola hidup sehat,” jelasnya.
Solusi Produktif Lahan Marjinal
Anton menilai budidaya sorgum merupakan solusi cepat dan realistis untuk mengoptimalkan lahan tidur, termasuk lahan bekas tambang yang tersebar di Kalimantan Selatan. Dengan masa panen relatif singkat, sekitar 100 hari, sorgum dinilai lebih efisien dibandingkan menunggu proses pemulihan lahan secara alami yang memakan waktu lama.
“Daripada lahan kosong dibiarkan tidak produktif, sorgum bisa menjadi alternatif yang memberi nilai ekonomi sekaligus manfaat pangan,” tambahnya.
Saat ini, Anton juga mulai mengembangkan produksi benih secara mandiri dengan menyeleksi tanaman unggul dari hasil panennya. Langkah ini dilakukan agar pengetahuan dan manfaat budidaya sorgum dapat ditularkan kepada masyarakat lebih luas.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat melihat pengembangan sorgum sebagai peluang strategis.
“Jika dikelola dengan serius dan didukung kebijakan yang tepat, sorgum berpotensi menjadi komoditas unggulan baru Kalimantan Selatan di tingkat nasional,” pungkasnya. (Lines Tala)



