Tabalong (21/3) –Ratusan warga LDII Tabalong memadati Masjid Baitul Muchlisin untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H pada Sabtu (21/3) pagi. Pelaksanaan ibadah tahun ini terasa istimewa dengan kehadiran Dewan Penasehat LDII Provinsi Kalimantan Selatan, KH Suprianto, S.AP, yang hadir langsung untuk menyampaikan nasehat Idul Fitri.
Dalam nasehat yang dibacakannya, KH Suprianto menekankan bahwa di era banjir informasi saat ini, takwa harus tercermin bukan hanya dalam ibadah ritual, melainkan juga dalam perilaku di dunia maya. Ia menyerukan momentum Idul Fitri sebagai hari “Gencatan Senjata Jempol”.
“Jangan sampai pahala Ramadhan yang kita kumpulkan sebulan penuh, hangus terbakar karena satu unggahan hoaks atau caci maki di ruang digital,” tegas KH Suprianto saat membacakan nasehat dari DPP LDII.
Ia mengingatkan agar media sosial digunakan untuk menyuarakan persaudaraan, kerukunan, dan kekompakan, bukan untuk pamer kemewahan atau menebar kebencian.
Selain aspek digital, nasehat tersebut juga menyoroti pentingnya “Reset Akhlak”. Idul Fitri dimaknai sebagai momentum untuk mencopot “topeng” kepalsuan dan kembali menjadi hamba yang jujur. Jemaah diajak untuk menjadi pribadi yang lebih lembut, pemaaf, dan rendah hati.
KH Suprianto juga mengingatkan beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang masuk surga, di antaranya, Kesombongan sekecil apa pun di dalam hati, Utang yang belum dilunasi, memutus tali silaturahim, mengambil harta yang bukan miliknya dan mengganggu ketenteraman tetangga.
Di tengah kekhidmatan di Tabalong, jemaah juga diajak untuk mengasah “pisau empati” terhadap saudara-saudara di wilayah konflik seperti Palestina dan Sudan. KH Suprianto mengajak jemaah untuk mensyukuri keamanan di Indonesia dengan cara menjaga kedamaian dan menghindari perpecahan internal sesama anak bangsa.
Ibadah Shalat Id di Masjid Baitul Muchlisin ini diakhiri dengan doa bersama dan tradisi saling memaafkan. Suasana kerukunan tampak jelas saat jemaah saling berjabat tangan, menutup bulan suci dengan hati yang bersih tanpa dendam dan iri hati. (Lines Tabalong)




