• DPP LDII Official Website
  • Tentang LDII
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasehat

Menyulam Hikmah di Balik Cobaan

0
SHARES
47
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

oleh Wanhat DPD LDII Balikpapan Budi Muhaeni

Hidup ini adalah rentetan episode, sebagian dihiasi tawa dan kebahagiaan, sebagian lagi diuji dengan air mata dan kepedihan.

Kita seringkali memandang cobaan—entah itu sakit, kehilangan, atau kegagalan—sebagai rintangan semata, beban yang memberatkan langkah. Namun, adakah perspektif lain yang lebih mendalam, yang mampu mengubah duri menjadi bunga, dan air mata menjadi butiran hikmah?

Namun cobaan yang mendatangkan keuntungan besar adalah jika dan hanya jika ia diterima dengan hati yang ridha dan sabar. Inilah sejatinya esensi, inti terdalam mengapa Allah SWT mendatangkan cobaan kepada hamba-Nya. Bukan untuk menyiksa, apalagi membinasakan, melainkan sebagai sebuah ujian kalbu, sebuah tarbiyah (pendidikan) Ilahiah agar hamba-Nya dapat meraih pahala yang berlimpah ruah, semata-mata, karena ketepatan sikapnya dalam menghadapi takdir. Sebuah pemahaman yang selaras dengan  firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Ayat ini adalah mercusuar yang menerangi jalan kita di tengah badai, menegaskan bahwa  cobaan adalah keniscayaan, dan kabar gembira hanya untuk mereka yang sabar. Di  sinilah terletak poin terpenting Allah mendatangkan cobaan; agar hamba-Nya dapat  meraih pahala besar karena benar menyikapinya.

Sebuah hadits Nabi Muhammad SAW semakin mempertegas makna ini, memberikan kita  perspektif yang menenangkan tentang setiap episode hidup yang kita alami:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya baik baginya. Dan tidaklah hal itu didapati kecuali bagi orang mukmin. Apabila dia mendapat kelapangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila dia tertimpa kesempitan, dia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Hadits ini adalah penegas bagi seorang beriman, tidak ada yang sia-sia dari setiap takdir. Kebaikan tersembunyi di balik syukur saat nikmat, dan kebaikan yang sama agungnya tersembunyi di balik sabar saat cobaan dan musibah.

Mari sejenak kita menilik kembali lembaran-lembaran sejarah, menelusuri jejak-jejak para insan pilihan, mereka yang dijuluki sebagai orang-orang saleh dan kekasih Allah.  Bagaimana mereka menyikapi badai yang menerpa kehidupan mereka?

Kita mulai dari Nabi Adam AS, manusia pertama dan khalifah di muka bumi. Ketika  cobaan berupa kekhilafan melingkupinya, beliau tidak bersembunyi dalam kesombongan  atau putus asa. Justru, beliau dengan tulus menyadari kekeliruan, mengakui kesalahan,  dan segera bertobat kepada Sang Pencipta. Sikap inilah yang membedakannya;  kesadaran dan kerendahan hati untuk kembali pada jalan yang benar. Sebuah refleksi dari  hadits qudsi, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kesadaran akan  kehadiran Allah mendorong taubat.

Kemudian ada Nabi Ayub AS, yang kisahnya menjadi salah satu monumen kesabaran  paling agung dalam sejarah manusia. Ia diuji dengan penyakit yang merenggut  kesehatan, harta, bahkan keluarganya. Namun, di tengah keterpurukan itu, ia tetap teguh, hatinya berlabuh pada ridha dan sabar. Tidak ada keluh kesah yang berlebihan, hanya  keyakinan pada kehendak Ilahi. Atas keteguhan itu, beliau dijuluki sebagai pribadi yang  paling sabar, menjadi kekasih Allah, dan pada akhirnya, Allah mengembalikan semua  yang telah diambil, bahkan dengan karunia yang lebih besar. Sebuah teladan nyata  bahwa kesabaran adalah kunci pembuka pintu rahmat, persis seperti pepatah Jawa,  “Wong sabar rejekine jembar” (Orang sabar rezekinya luas).

Kita juga belajar dari Nabi Yunus AS, yang sempat diuji dengan kegelapan di dalam perut ikan. Sebuah momen putus asa yang singkat, namun segera disusul oleh kesadaran yang  mendalam dan taubat yang tulus. Ia memahami bahwa pertolongan hanya datang dari  Allah, dan hanya dengan mengakui kesalahan serta berserah diri, jalan keluar akan  terbuka. Ini mengingatkan kita bahwa bahkan dalam keputusasaan sekalipun, ruang  untuk kembali dan bertobat selalu tersedia, sebab “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Lalu ada Nabi Ibrahim AS, sang Khalilullah (kekasih Allah), yang menghadapi ujian  terbesar dalam hidupnya: perintah mengorbankan putra satu-satunya, Nabi Ismail AS,  yang sangat ia cintai dan nantikan. Sebuah ujian yang mengoyak batin, namun baik Nabi  Ibrahim maupun Nabi Ismail menunjukkan kesabaran dan keridhaan yang luar biasa.  Ketaatan mereka yang sempurna mengantarkan Nabi Ibrahim pada derajat kekasih Allah  dan menjadi Bapak bagi orang-orang beriman. Kisah ini mengajarkan bahwa keridhaan  dan ketaatan total pada kehendak Ilahi akan menghasilkan pahala yang tak terhingga,  sebab “Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69).

Tidak ketinggalan pula para wanita mulia yang dijamin surga-Nya. Sebut saja Sayyidah Maryam AS, yang dicoba dengan takdir melahirkan putra tanpa suami, sebuah ujian  sosial yang amat berat. Namun dengan keteguhan iman dan ketenangan hati, ia  menghadapi segala fitnah dan keraguan, hingga Allah membersihkan namanya. Demikian pula Sayyidah Khadijah RA, istri Nabi Muhammad SAW, yang mengorbankan segalanya  demi perjuangan Islam; dan Sayyidah Asiyah, istri Firaun, yang memilih iman di tengah  tirani kekafiran. Mereka semua adalah teladan kesabaran, keteguhan, dan keridhaan yang  mengantarkan mereka pada jaminan surga, sebuah janji ilahiah “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2).

Dan tentu saja, puncak dari segala keteladanan adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau diuji dengan penentangan keras dari kaum musyrikin dan kafirin, pengkhianatan,  peperangan, hingga penderitaan fisik dan mental. Namun, beliau tetap teguh dalam  kesabaran, tak pernah menyerah dalam menyampaikan risalah, dan selalu berpegang  pada kehendak Allah. Karena kesabarannya yang tak tertandingi itulah, beliau menjadi  Nabi termulia di akhir zaman, yang surganya telah dijanjikan Allah semenjak beliau masih  hidup. Sebuah bukti nyata bahwa ridha dan sabar adalah jalan menuju puncak kemuliaan, sesuai sabda beliau, “Tidaklah seorang Muslim ditimpa suatu keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapus dengannya sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, apa pelajaran yang dapat kita petik dari rentetan kisah-kisah agung ini?

Sakit, sebagaimana setiap bentuk cobaan lainnya, adalah bagian dari Qadar Allah yang  tak terhindarkan. Ia bukanlah kutukan, melainkan sebuah kesempatan. Kesempatan emas  untuk mengumpulkan pahala, membersihkan dosa, dan meningkatkan derajat di sisi  Allah. Oleh karena itu, ketika kita atau saudara kita sedang diuji dengan sakit, respons  pertama yang harus kita hadirkan bukanlah keluh kesah atau keputusasaan, melainkan  keridhaan hati untuk menerima takdir ini dengan lapang dada, dan kesabaran yang teguh dalam menjalaninya. Sebagaimana pepatah Jawa, “Nrimo ing pandum” (Menerima apa adanya pemberian Tuhan), adalah sikap dasar yang akan mengundang  ketenangan jiwa.

Setelah hati kita ridha dan bersabar, barulah kita panjatkan doa-doa terbaik kepada Allah  SWT. Mintalah kesembuhan yang barokah, obat yang cocok, dan kekuatan untuk melalui  setiap prosesnya. Ridha dan sabar adalah kunci yang membuka pintu keberkahan dan  pertolongan Ilahi. Ingatlah firman Allah, “Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu’.” (QS. Ghafir: 60).

Demikian pula ketika kita melihat saudara kita sedang dicoba dengan sakit. Doakanlah  mereka bukan hanya agar cepat sembuh, melainkan doakanlah terlebih dahulu agar Allah  mengaruniakan ridha dan kesabaran dalam hati mereka. Sebab, di situlah esensi pahala  besar terletak. Setelah itu, barulah kita doakan kesembuhan yang barokah, yang akan  membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Sungguh, memahami dan menghayati makna di balik cobaan ini akan mengubah cara kita  memandang setiap kesulitan. Ia bukan lagi tembok penghalang, melainkan tangga  menuju kemuliaan. Dengan ridha dan sabar, setiap cobaan akan menjadi jalan pintas  menuju pahala yang tiada tara, mengantarkan jiwa pada kasampurnan (kesempurnaan)  dan kedekatan yang hakiki dengan Sang Pencipta. Biarlah setiap tetes air mata menjadi  saksi kesabaran, dan setiap desah napas menjadi zikir keridhaan.

Previous Post

Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter, DPD LDII Kota Banjarbaru Helat Kegiatan Camping CAI

Next Post

Pengurus DPD LDII Tala Hadiri Acara Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial

Next Post
Pengurus DPD LDII Tala Hadiri Acara Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial

Pengurus DPD LDII Tala Hadiri Acara Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pos Terbaru

Demonstrasi di Berbagai Kota, LDII Sampaikan Keprihatinan dan Minta Para Elit Dengarkan Aspirasi Rakyat

Demonstrasi di Berbagai Kota, LDII Sampaikan Keprihatinan dan Minta Para Elit Dengarkan Aspirasi Rakyat

August 30, 2025
‘ATM’ Ajak Generasi Muda LDII Kalimantan Selatan Taaruf Usia Nikah

‘ATM’ Ajak Generasi Muda LDII Kalimantan Selatan Taaruf Usia Nikah

August 29, 2025
Ketua Umum DPP LDII: Kebangsaan di Era Digital Harus Jadi Prioritas Utama

Ketua Umum DPP LDII: Kebangsaan di Era Digital Harus Jadi Prioritas Utama

August 24, 2025

Tagline

8 bidang pengabdian LDII akhlakul karimah Anies Baswedan Chriswanto Santoso Covid-19 DPD LDII Gresik FKUB Halal Bihalal Jawa Timur KPU LDII LDII Bandung LDII untuk Bangsa Lembaga Dakwah Islam Indonesia MUI Bandung NKRI One Pesantren One Product PAC LDII Pabuaran Mekar Pancasila Pemilu Damai Ponpes Wali Barokah profesional religius program kampung iklim Rapat Kerja tanggulangi judi online Vaksin vaksinasi wabah Wisata

Categories

  • Berita Daerah
  • Berita Kegiatan
  • Berita Nasional
  • Ekonomi
  • Lintas Daerah
  • Muswil Ke-7 DPW LDII Kalsel
  • Nasehat
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Prestasi
  • Uncategorized
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak

© 2021 Managed by DPP LDII

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak

© 2021 Managed by DPP LDII