Tanah Laut (20/3) – Senja perlahan turun di ufuk barat Pantai Takisung. Langit yang semula cerah mulai bergradasi jingga keemasan, sementara debur ombak terdengar tenang mengiringi suasana. Di tepi pantai itu, sejumlah tokoh agama, pejabat pemerintah, dan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) Islam berdiri berjajar, mata mereka tertuju ke garis cakrawala. Mereka menanti satu hal yang sama: kemunculan hilal, penanda datangnya 1 Syawal.
Kegiatan rukyatul hilal yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) pada Kamis (19/3/2026) ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, momen ini menghadirkan ruang kebersamaan yang hangat di antara berbagai elemen umat Islam dan pemerintah daerah.
Sejak sore hari, para peserta mulai berdatangan. Terlihat Sekretaris Daerah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanah Laut, Ketua Pengadilan Agama, hingga perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Di antara mereka, hadir pula pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Tanah Laut yang sejak beberapa tahun terakhir aktif dilibatkan dalam pengamatan hilal.

Ketua DPD LDII Tanah Laut, Anton Kuswoyo, tampak berdiri di dekat alat teropong bintang yang telah dipersiapkan. Dengan penuh keseriusan, ia bersama timnya mengarahkan alat tersebut ke arah matahari terbenam, mencoba menangkap tanda tipis bulan sabit yang dinanti.
“Sejak tahun 2024 kami selalu dilibatkan dalam kegiatan ini. Kami membawa peralatan sendiri dan juga tenaga ahli untuk membantu proses pengamatan,” ujarnya di sela kegiatan.
Tim Pegamat Hilal LDII Tala terdiri dari H Suseno, Moch Kharis Abdurrahman, dan Cucu Sulaiman yang turut berperan aktif dalam proses rukyat tersebut.
Waktu demi waktu berlalu. Sinar matahari kian meredup, berganti dengan langit yang mulai gelap. Namun, hilal yang dinanti belum juga tampak. Meski demikian, suasana di lokasi tetap terasa hangat. Para peserta saling berbincang, bertukar cerita, bahkan sesekali terdengar canda ringan yang mencairkan suasana.
Bagi Anton, ketidaktampakan hilal bukanlah hal yang mengecewakan. Justru di situlah letak pentingnya proses rukyat itu sendiri.

“Walaupun hilal tidak terlihat, proses ini tetap harus dilakukan secara langsung. Karena hasil pengamatan, termasuk ketika hilal tidak tampak, menjadi bagian dari penentuan yang sah,” jelasnya.
Lebih dari sekadar proses ilmiah dan keagamaan, kegiatan ini juga menjadi jembatan silaturrahim. Di tengah kesibukan masing-masing, para tokoh agama dan pemerintah bisa berkumpul dalam suasana santai namun penuh makna.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana semakin hangat. Hidangan sederhana tersaji di tepi pantai. Para peserta duduk bersama, menikmati kebersamaan sambil menunggu azan magrib berkumandang.
“Alhamdulillah, kegiatan ini bukan hanya tentang melihat hilal, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat silaturrahim. Kita bisa berbuka puasa bersama di sini, dalam suasana yang penuh kebersamaan,” tambah Anton.
Pada akhirnya, hasil pengamatan di Pantai Batakan sejalan dengan laporan dari berbagai daerah di Indonesia—hilal tidak terlihat. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah kemudian menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Meski hilal tak tampak di langit senja itu, makna kebersamaan justru terlihat jelas di antara mereka yang hadir. Di tepi pantai, dalam balutan cahaya senja dan doa, silaturrahim terjalin erat, menjadi pesan indah yang melengkapi akhir Ramadan tahun ini. (Lines Tala)





