Tabalong (12/5) – Masalah sampah bukan sekadar urusan hilir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan persoalan hulu yang bermula dari gaya hidup masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris DPW LDII Provinsi Kalimantan Selatan, Budiono, SSTP, M.Si, saat menggelar diskusi hangat bersama pemuda LDII Tabalong di Aula Pondok Halawatul Islam, Tanta, Senin (11/5) malam.
Dalam diskusi tersebut, Budiono menyoroti perilaku masyarakat sebagai produsen sampah terbesar yang selama ini cenderung “lepas tangan” dan menyerahkan sepenuhnya urusan sampah kepada pemerintah.
Budiono mengajak para pemuda untuk menginisiasi gerakan pemilahan sampah yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga dan masjid. Menurutnya, sampah harus dipilah menjadi tiga kategori utama, organik (sisa makanan), anorganik yang bernilai ekonomis (plastik dan kertas), serta sampah residu atau kimia yang tidak dapat didaur ulang.
“Jika sisa makanan dijadikan pupuk atau pakan ikan, dan sampah plastik masuk ke bank sampah, maka yang dibuang ke TPS hanya sepertiganya saja. Ini akan sangat membantu pemerintah” ujar Budiono.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi sejak usia dini, mencontoh negara maju seperti Jepang di mana anak-anak sudah mahir memilah sampah. Strategi ini, menurutnya, akan segera dipraktekkan dengan basis masjid sebagai pusat edukasi dan aksi.
Ia mendorong generasi muda LDII untuk proaktif membangun jaringan dan aksesibilitas.
“Kita tidak boleh tertinggal hanya karena kurang membangun jaringan. Peluang seperti pengelolaan bank sampah ini harus ditindaklanjuti dengan membangun kolaborasi yang kuat,” tegasnya.
Menutup diskusi, Budiono memberikan pesan mendalam mengenai siklus generasi. Ia memaparkan bahwa generasi pejuang (Baby Boomers) melahirkan generasi tangguh (Milenial). Kini, tantangan ada di tangan generasi muda saat ini, apakah akan menjadi generasi lemah atau generasi kuat.
“Indikator generasi lemah sudah terlihat, seperti fenomena ‘mager’ (malas gerak) dan ketergantungan pada kendaraan. Solusinya adalah treatment 29 Karakter Luhur. Dengan mempraktekkan karakter tersebut, kita sedang menyiapkan peradaban 15 hingga 20 tahun mendatang,” tutupnya. (Lines Tabalong)




