Oleh: Dr. Anton Kuswoyo, Dosen dan Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut
Sebagai anak petani, masa kecil saya akrab dengan berbagai aktivitas di sawah. Saya masih ingat bagaimana orang tua dan para petani di kampung mengolah lahan dengan cara manual. Sawah dicangkul menggunakan tenaga manusia, gulma dibersihkan satu per satu, dan padi dipanen dengan cara manual menggunakan sabit. Semua pekerjaan itu membutuhkan banyak tenaga, kesabaran, dan waktu yang tidak sebentar.
Puluhan tahun kemudian, pemandangan tersebut berubah drastis. Saat ini, banyak petani telah memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern untuk mengolah lahan dan memanen tanaman. Hasilnya sungguh luar biasa. Pekerjaan yang dahulu memerlukan puluhan tenaga kerja dan waktu berminggu-minggu kini dapat diselesaikan hanya oleh satu orang operator dalam hitungan jam. Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan tentu lebih ekonomis.
Namun menariknya, kehadiran alsintan modern tidak membuat petani berhenti berpikir atau menjadi malas bekerja. Traktor memang dapat membajak tanah dengan cepat, tetapi tidak dapat menentukan kapan waktu tanam yang tepat, bagaimana menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan, cara mengendalikan serangan hama yang datang tiba-tiba, atau strategi meningkatkan hasil panen. Semua keputusan penting tersebut tetap berada di tangan manusia. Petani tetap dituntut untuk berpikir, menganalisis masalah, berinovasi, dan mengambil keputusan terbaik agar tanamannya tumbuh subur dan menghasilkan panen yang optimal.
Analogi inilah yang menurut saya sangat relevan untuk menggambarkan posisi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan manusia saat ini. AI memang mampu membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam hitungan detik. Tugas sekolah, pencarian informasi, penyusunan laporan, hingga pembuatan karya tulis dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Namun sebagaimana traktor tidak menggantikan peran petani, AI juga seharusnya tidak menggantikan peran manusia dalam berpikir.
Di sinilah tantangan terbesar yang sedang dihadapi generasi muda. Kemudahan yang ditawarkan AI seringkali mendorong sebagian orang untuk mencari jalan pintas. Ketika jawaban tersedia secara instan, proses berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah sering kali diabaikan. Sedikit demi sedikit, kebiasaan menggunakan logika dan daya nalar dapat melemah karena otak terbiasa menerima hasil jadi tanpa melalui proses yang mendalam.
Padahal kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah merupakan keterampilan utama yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi masa depan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman hidup, nilai-nilai moral, kebijaksanaan, maupun tanggung jawab manusia terhadap keputusan yang diambil.
Karena itu, penggunaan AI dalam dunia pendidikan perlu disikapi secara bijaksana. Siswa dan mahasiswa tetap harus dibiasakan untuk memahami persoalan, mencari solusi, menyusun argumen, dan mengembangkan ide secara mandiri sebelum meminta bantuan AI. Setelah proses berpikir tersebut dilakukan, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperkaya informasi, memeriksa kembali pekerjaan, atau memberikan sudut pandang alternatif.
Dengan cara tersebut, AI akan berfungsi sebagaimana traktor di dunia pertanian: mempercepat pekerjaan tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengendali utama. Teknologi seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan yang paling berharga, yaitu berpikir.
Pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang sekadar mampu menggunakan AI. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang tetap mampu berpikir kritis, kreatif, dan bijaksana dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu. Sebab secanggih apa pun teknologi yang diciptakan, manusialah yang harus tetap menjadi pengemudi, sementara AI hanyalah kendaraan yang membantu mencapai tujuan. (*)




