Banjarbaru (13/7) – Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kota Banjarbaru sukses menggelar kegiatan Perkemahan Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47. Gelaran tahunan yang berlangsung di Padepokan Persinas ASAD Kota Banjarbaru ini dilaksanakan selama empat hari, mulai Kamis hingga Minggu (9-12/7/2026).
Kegiatan rutin ini menjadi langkah nyata sekaligus komitmen penuh DPD LDII Banjarbaru dalam membentengi serta mempersiapkan generasi muda di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat. Melalui CAI ke-47, LDII berupaya mencetak generasi penerus (generus) yang tidak hanya unggul secara akademis, melainkan juga memiliki moralitas spiritual yang kokoh, berjiwa nasionalis, serta siap menghadapi tantangan global.
Pembina DPD LDII Kota Banjarbaru, Muslim Abdullah, menegaskan bahwa pembangunan karakter menjadi fondasi mutlak dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh di tengah cepatnya arus teknologi dan dinamika sosial saat ini. Oleh karena itu, LDII menempatkan pembinaan pemuda sebagai program prioritas utama organisasi.
“Kami sebagai organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang dakwah berkomitmen mencetak generasi yang profesional sekaligus religius. Pembinaan generasi muda ini menjadi salah satu faktor utama dalam pembentukan negara yang maju, adil, serta beradab,” ujar Muslim.
Dalam membina generus yang unggul, Muslim menjelaskan bahwa LDII secara konsisten mengimplementasikan program 29 Karakter Luhur. Pedoman pembinaan ini mencakup berbagai nilai esensial, mulai dari kejujuran, amanah, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama tim, hingga kepedulian terhadap sesama.
“Melalui momentum CAI ini, kami mempertegas komitmen membentuk generasi penerus yang memiliki sifat jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Kita ingin mereka menjadi pemuda yang profesional, nasionalis, serta yang tidak kalah pentingnya adalah religius,” tambahnya.
Di sisi lain, Muslim juga menyoroti ancaman nyata yang sedang mengintai masa depan remaja saat ini. Mulai dari jeratan narkoba, aksi tawuran, maraknya geng motor, hingga paparan konten negatif di dunia maya. Hal inilah yang membuat pembinaan karakter generus bersifat mutlak dan mendesak.
Ia mengingatkan bahwa langkah pencegahan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan butuh komitmen jangka panjang serta sinergi yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat.
“Kami tidak ingin generasi LDII bersinggungan atau bahkan terpengaruh oleh berbagai perilaku negatif tersebut. Pelatihan dan pembinaan ini harus dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, kami memohon kepada seluruh unsur, baik orang tua, tenaga pendidik, pakar pendidikan, stakeholder, hingga para alim ulama untuk bahu-membahu membina generasi muda kita,” tegas Muslim. (Lines Banjarbaru)



