Hulu Sungai Utara (16/6) – Untuk memberikan ketenangan dan kekhusyukan bagi jemaah dalam beribadah, Badan Pengelola Masjid (BPM) Raudhatul Hidayah mengambil langkah progresif. Menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), mereka menggelar pengukuran ulang arah kiblat di Masjid Raudhatul Hidayah, Senin (15/6) pagi.
Masjid yang berada di bawah binaan DPD LDII HSU ini sengaja diverifikasi ulang untuk memastikan posisi saf salat benar-benar presisi menghadap ke Ka’bah di Mekkah. Tak lagi menggunakan cara manual, tim dari Seksi Bimas Islam Kemenag HSU yang dipimpin oleh Insani bersama dua rekannya, turun langsung membawa perangkat modern berupa GPS dan metode hitungan segitiga bola.
“Penggunaan peralatan ini memungkinkan hasil yang jauh lebih presisi dibandingkan teknik manual yang selama ini digunakan,” ujar Insani di sela-sela proses pengukuran.
Langkah proaktif BPM Raudhatul Hidayah ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak Kemenag. Menurut Insani, peninjauan ulang arah kiblat secara berkala sebenarnya sangat krusial. Mengutip analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena alam seperti gempa bumi dan pergerakan lempeng tektonik perlahan bisa memicu pergeseran sudut bumi.
“Langkah berkolaborasi dengan Kemenag ini sudah sangat pas. Mengingat pengamatan BMKG menunjukkan perputaran dan pergeseran bumi akibat bencana atau gempa bisa menggeser arah kiblat,” jelas Insani.
Ia juga menyarankan agar masjid-masjid yang sudah berdiri lama, khususnya di atas sepuluh tahun, untuk mengajukan pengukuran ulang. Hal ini penting demi menghindari kekeliruan arah dalam jangka panjang.
“Akurasi kiblat adalah standar dasar fasilitas ibadah. Kami mendorong pengurus masjid lain untuk proaktif. Setelah diukur, kami akan menerbitkan sertifikat dan stiker resmi sebagai bukti verifikasi pemerintah. Ini bisa jadi acuan takmir dan dokumen penting jika ada renovasi bangunan di kemudian hari,” tambahnya.
Respons positif juga datang dari pengurus tingkat daerah. Ketua DPD LDII HSU, Lukman Irianto, S.Pd., membenarkan bahwa Masjid Raudhatul Hidayah memang sudah sekitar 20 tahun tidak mengukur ulang arah kiblatnya. Setelah diuji dengan alat modern, ternyata ditemukan adanya perbedaan sudut.
“Ternyata hasilnya berbeda (dari pengukuran awal dulu). Kerja sama ini diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dan ormas lain agar fasilitas ibadah selalu terjaga kualitasnya, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif kita tentang pentingnya presisi arah kiblat,” kata Lukman.
Di sisi lain, Sekretaris BPM Raudhatul Hidayah, H. Abdul Ghani, menegaskan bahwa esensi utama dari kegiatan ini adalah kenyamanan batin jemaah saat menghadap Sang Pencipta.
“Kami ingin memastikan ibadah di masjid ini berjalan sesuai tuntunan. Jemaah perlu merasa tenang ketika salat, dan ketenangan itu dimulai dari arah kiblat yang tepat,” pungkas Abdul Ghani.
Seiring majunya teknologi, penentuan arah kiblat kini memang jauh lebih mudah dan akurat. Namun, edukasi dan kesadaran takmir masjid serta masyarakat untuk tetap melakukan verifikasi resmi dinilai menjadi kunci utama agar ibadah yang dijalankan sah dan sesuai syariat. (Ngt)




