Tabalong (5/9) – Di tengah pesatnya arus informasi digital, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki benteng moral yang kokoh. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Pengajian Generasi Penerus (Generus) LDII Tabalong yang digelar di Masjid Baitul Muchlisin, Sabtu malam (5/9).
Dalam kegiatan tersebut, Ketua PAC LDII Warukin Kecamatan Tanta, Lutfi Sulaiman, hadir membawakan materi bertajuk “Literasi Digital & Etika Bermedia Sosial.” Di hadapan puluhan pemuda-pemudi LDII, Lutfi menekankan pentingnya korelasi antara kecakapan digital dengan penanaman 29 Karakter Luhur sebagai internal filter dan etika siber saat berinteraksi di ruang publik maya.
Lutfi menjelaskan bahwa literasi digital merujuk pada kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, membuat, dan mengevaluasi informasi secara kritis melalui perangkat digital. Berdasarkan panduan dari Kementerian Komunikasi dan Digital, literasi digital ditopang oleh empat pilar utama: Digital Skills (Kecakapan), Digital Ethics (Etika), Digital Safety (Keamanan), dan Digital Culture (Budaya).
Namun, menurut Lutfi, penguasaan empat pilar tersebut akan terasa hampa jika tidak diimbangi dengan karakter yang kuat.

“Kemajuan teknologi harus sejalan dengan pemahaman moral yang kokoh. 29 Karakter Luhur yang selama ini dibina dalam warga LDII berfungsi sebagai filter internal dan panduan moral agar media sosial membawa dampak positif, bukan sebaliknya,” tegas Lutfi Sulaiman.
Dalam paparannya, Lutfi menguraikan secara komprehensif bagaimana pilar etika bermedia sosial saling bertautan dengan poin-poin 29 Karakter Luhur.
Generasi muda diajak menggunakan pemahaman agama dan logika kritis untuk memvalidasi kebenaran informasi sebelum membagikannya. Hal ini penting guna memutus rantai penyebaran berita bohong (hoaks).
“Dalam mengetik komentar atau membuat unggahan, setiap individu hendaknya menggunakan bahasa yang sopan, jujur menyampaikan fakta, serta menghindari ujaran kebencian, cacian, maupun fitnah” tuturnya.
Lebih jauh Lutfi memaparkan Ruang digital sepatutnya dimanfaatkan untuk membangun jaringan positif, menghindari perdebatan sengit yang memicu perpecahan (cyberbullying), serta bergotong-royong menyebarkan konten kebaikan.
“Menghadapi dinamika sosial di internet dengan saling menasihati secara santun jika ada rekan yang keliru, serta siap mengalah demi menjaga kedamaian di ruang siber”Imbuh Lutfi.
Yang tidak kalah penting menurutny lagi dengan memanfaatkan internet secara produktif seperti bekerja, berbisnis digital, atau menuntut ilmu baru secara mandiri tanpa membuang-buang waktu atau kecanduan media sosial.
Dewan Penasehat DPD LDII Tabalong, M Ilyas mengatakan melalui sosialisasi ini, diharapkan para generasi muda mampu menjadi agent of change yang menyebarkan pengaruh positif dan menyejukkan di dunia maya.

“Sekaligus menjadi contoh netizen yang berkarakter luhur, cerdas, dan bijaksana” tutupnya.
Pengajian yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta diajak untuk lebih bijak dan rasional dalam memilah konten di gawai masing-masing. (Lines Tabalong)



