• DPP LDII Official Website
  • Tentang LDII
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Opini

Sorgum dan Harapan Baru Pangan Sehat Indonesia

0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Anton Kuswoyo, Peneliti Sorgum, Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut – Kalimantan Selatan

Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan masyarakat di sebuah desa. Dalam obrolan sederhana itu, ada satu hal yang cukup membuat saya terharu sekaligus prihatin. Tidak sedikit warga yang menyampaikan keinginan untuk membeli beras sorgum. Ketika saya tanya alasannya, jawaban mereka hampir sama: ingin hidup lebih sehat, terutama untuk mengurangi kadar gula.

Jawaban itu sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan besar. Masyarakat mulai sadar bahwa persoalan pangan bukan hanya soal kenyang. Pangan juga berkaitan dengan kesehatan, kualitas hidup, dan masa depan keluarga. Di tengah semakin banyaknya cerita tentang diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya, masyarakat mulai mencari pilihan pangan yang lebih baik.

Data kesehatan nasional menunjukkan bahwa kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mencatat bahwa prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan diagnosis dokter sebesar 2,2 persen. Namun, ketika dilihat dari hasil pemeriksaan kadar gula darah, angkanya mencapai 11,7 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang kemungkinan memiliki masalah gula darah, tetapi belum mengetahui atau belum terdiagnosis secara resmi.

Data International Diabetes Federation juga memperkirakan bahwa pada 2024 terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa di Indonesia yang hidup dengan diabetes. Bahkan, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa tertinggi di dunia. Angka ini tentu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada cerita tentang keluarga, biaya pengobatan, penurunan produktivitas, dan perubahan pola hidup yang tidak mudah.

Di sinilah pembicaraan tentang sorgum menjadi relevan. Selama ini, sumber karbohidrat masyarakat Indonesia sangat bergantung pada beras. Beras tentu tetap penting dan tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan. Namun, ketergantungan yang terlalu besar pada satu jenis pangan membuat pilihan masyarakat menjadi sempit. Padahal, Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang potensial, salah satunya sorgum.

Sorgum bukan tanaman baru. Di beberapa daerah, sorgum sudah lama dikenal dengan nama lokal yang berbeda-beda. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, sorgum lebih sering dipandang sebagai tanaman pinggiran, bukan sebagai pangan utama yang layak diperhitungkan. Padahal, dari sisi kandungan gizi dan potensi kesehatannya, sorgum memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif.

Sejak 2022, saya meneliti sorgum. Bahkan, penelitian disertasi doktor saya juga berfokus pada sorgum, khususnya sorgum di lahan marginal. Dari proses penelitian tersebut, saya semakin yakin bahwa sorgum bukan hanya tanaman yang kuat secara agronomis, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai pangan masa depan. Sorgum dapat tumbuh pada lahan yang relatif marginal, lebih adaptif pada kondisi kering, dan dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, maupun industri.

Dalam konteks pangan sehat, sorgum menarik karena kandungan seratnya dan karakter karbohidratnya yang berbeda dibanding pangan berpati lainnya seperti beras. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pangan berbasis sorgum dapat membantu menekan kenaikan gula darah setelah makan. Hal ini membuat sorgum berpotensi menjadi pilihan karbohidrat yang lebih bersahabat bagi masyarakat yang ingin menjaga kadar gula darah.

Selain itu sorgum juga bebas gluten, memiliki kandungan protein, fosfot, dan zat besi lebih tinggi dibandingkan beras. Sementara kadar gulanya lebih rendah. Sehingga menjadikan sorgum pangan alternatif untuk mencegah diabetes.

Namun, penting untuk ditegaskan bahwa sorgum bukan obat diabetes. Sorgum tidak boleh dipromosikan secara berlebihan seolah-olah mampu menyembuhkan penyakit. Sikap ilmiah harus tetap dijaga. Sorgum lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pola makan sehat: mengganti sebagian konsumsi beras putih, memperbanyak serat, mengurangi gula tambahan, menjaga porsi makan, serta diimbangi dengan aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Kesadaran masyarakat desa yang ingin membeli beras sorgum adalah sinyal penting. Mereka tidak sedang mengikuti tren semata. Mereka sedang mencari jalan untuk hidup lebih sehat dengan cara yang dekat dengan pangan lokal. Tugas peneliti, pemerintah, petani, pelaku usaha, dan media adalah menjawab kesadaran itu dengan informasi yang benar, produk yang terjangkau, dan rantai produksi yang berkelanjutan.

Sorgum tidak akan langsung menggantikan beras. Itu juga bukan tujuan utamanya. Tujuan yang lebih realistis adalah menjadikan sorgum sebagai pilihan tambahan dalam menu harian masyarakat. Misalnya, sebagian konsumsi nasi putih diganti dengan nasi sorgum, bubur sorgum, tepung sorgum, mi sorgum, atau olahan pangan lokal lain yang sesuai dengan selera masyarakat.

Jika diversifikasi pangan hanya berhenti sebagai slogan, maka masyarakat akan tetap kembali pada pola lama. Tetapi jika sorgum hadir dalam bentuk produk yang enak, mudah dimasak, harganya masuk akal, dan didukung edukasi kesehatan yang tepat, maka sorgum bisa menjadi gerakan pangan sehat yang lebih membumi.

Saya percaya, masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita memproduksi beras, tetapi juga seberapa berani kita membuka ruang bagi pangan lokal lain. Sorgum adalah salah satu jawabannya. Ia bukan sekadar tanaman alternatif, tetapi simbol bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang dapat mendukung kesehatan masyarakat.
Dari obrolan kecil dengan warga desa, saya belajar bahwa perubahan besar sering dimulai dari pertanyaan sederhana: “Apa yang bisa kami makan agar hidup lebih sehat?” Pertanyaan itu tidak boleh diabaikan. Justru dari sana, sorgum perlu diperkenalkan kembali, bukan sebagai pangan masa lalu, tetapi sebagai pangan sehat untuk masa depan. (*)

Previous Post

Muzhid Mujhid: Kunci Tangguh Ekonomi Keluarga ala LDII di Tengah Gejolak Rupiah dan BBM

Next Post

AKASS 2026 Jadi Ajang Pengembangan Potensi Generus LDII di Banjarmasin Timur

Next Post
AKASS 2026 Jadi Ajang Pengembangan Potensi Generus LDII di Banjarmasin Timur

AKASS 2026 Jadi Ajang Pengembangan Potensi Generus LDII di Banjarmasin Timur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pos Terbaru

AKASS 2026 Jadi Ajang Pengembangan Potensi Generus LDII di Banjarmasin Timur

AKASS 2026 Jadi Ajang Pengembangan Potensi Generus LDII di Banjarmasin Timur

June 22, 2026
Sorgum dan Harapan Baru Pangan Sehat Indonesia

Sorgum dan Harapan Baru Pangan Sehat Indonesia

June 22, 2026
Muzhid Mujhid: Kunci Tangguh Ekonomi Keluarga ala LDII di Tengah Gejolak Rupiah dan BBM

Muzhid Mujhid: Kunci Tangguh Ekonomi Keluarga ala LDII di Tengah Gejolak Rupiah dan BBM

June 16, 2026

Tagline

8 bidang pengabdian LDII akhlakul karimah Anies Baswedan Chriswanto Santoso Covid-19 DPD LDII Gresik Ekoteologi FKUB Halal Bihalal Hari Amal Bakti Kemenag Jawa Timur Kementerian Agama Bintan KPU LDII LDII Bandung LDII Bintan LDII untuk Bangsa Lembaga Dakwah Islam Indonesia MUI Bandung NKRI One Pesantren One Product PAC LDII Pabuaran Mekar Pancasila Pemilu Damai Ponpes Wali Barokah profesional religius program kampung iklim Rapat Kerja tanggulangi judi online Vaksin vaksinasi wabah Wisata

Categories

  • Berita Daerah
  • Berita Kegiatan
  • Berita Nasional
  • Ekonomi
  • Lintas Daerah
  • Muswil Ke-7 DPW LDII Kalsel
  • Nasehat
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Prestasi
  • Uncategorized
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak

© 2021 Managed by DPP LDII

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang LDII
  • Susunan Pengurus
  • Rubrik
  • Kontak

© 2021 Managed by DPP LDII