Banjarmasin (22/6) – Masalah penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) perkotaan kian mengkhawatirkan. Mulai dari bau menyengat, pencemaran air tanah akibat lindi, hingga emisi gas metana yang memicu pemanasan global menjadi ancaman nyata yang harus segera ditangani.
Merespons kondisi tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Kalimantan Selatan, H. Dedi Supriatna, S.Pd., M.T., merilis sebuah panduan inovatif mengenai pengelolaan sampah organik mandiri skala rumah tangga melalui sistem Komposter Anaerob 200 Liter.
“Membuang sampah organik ke sistem persampahan kota bukanlah solusi yang tepat. Langkah mandiri dari tingkat rumah tangga adalah kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota sekaligus mengubah limbah domestik menjadi produk bernilai guna,” ujar Dedi Supriatna.
Mengenal Komposter Anaerob 200 Liter: Hemat dan Efisien
Metode yang ditawarkan ini menggunakan sistem fermentasi kedap udara (anaerob). Keunggulan utamanya adalah memanfaatkan gaya gravitasi untuk memisahkan limbah cair (lindi) dan limbah padat secara otomatis melalui saringan khusus.
Hebatnya lagi, alat ini sangat ekonomis. Estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk merakit satu unit komposter ini hanya berkisar Rp470.000.
Komponen Utama Alat:
- Bak Utama: Menggunakan drum plastik bekas ukuran 200 Liter yang kedap udara.
- Saringan Pemisah (Separator): Pelat besi berlubang yang dipasang 30 cm dari dasar drum untuk menahan ampas padat.
- Dudukan Besi Kaki 3: Penopang setinggi 50 cm untuk menyisakan ruang bagi ember penampung di bawahnya.
- Sistem Drainase: Selang transparan yang mengalirkan air lindi langsung ke ember penampung akhir kapasitas 10 Liter.
Formula Rahasia Pembasmi Bau: Aktivasi Bakteri EM4
Salah satu tantangan terbesar dalam membuat kompos di rumah adalah risiko bau busuk menyengat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dedi membagikan formula khusus menggunakan Effective Microorganisms-4 (EM4) botol kuning.
Bakteri ini harus dibangunkan dari fase tidurnya (dorman) dengan ramuan berikut:
- Campurkan 2 tutup botol EM4, 2 sendok makan gula (pasir/merah/molase), dan 1 liter air bersih non-kaporit (air sumur atau air hujan).
- Aduk rata dan diamkan selama 15–30 menit hingga muncul buih halus.
- Semprotkan formula ini secara merata setiap kali memasukkan sampah dapur yang telah dicacah kecil (2–5 cm).
Tips Pencegahan Bau: Jika komposter terlalu becek, cukup tambahkan unsur kering seperti serbuk gergaji atau daun kering. Jika terlalu banyak sisa protein (daging/lemak), taburkan bubuk kapur pertanian (dolomit) untuk menetralkan pH secara cepat.
Panen Ganda: Pupuk Cair dan Kompos Padat
Dalam waktu 4 hingga 6 minggu sejak drum terisi penuh dan ditutup rapat, sampah rumah tangga akan menyusut hingga 50% – 70% dan siap dipanen. Hasil akhirnya memiliki ciri fisik berwarna hitam pekat/cokelat tua beraroma segar seperti tanah basah.
Dari satu alat ini, warga bisa mendapatkan dua jenis pupuk sekaligus:
- Pupuk Organik Cair (POC): Diambil dari ember bawah, wajib diencerkan dengan air bersih menggunakan perbandingan 1 : 20 sebelum disiram ke tanaman.
- Kompos Padat: Dapat langsung diaplikasikan sebagai media tanam baru dengan mencampurkannya bersama tanah (perbandingan ideal 1:3).
Melalui gerakan pilah dan olah sampah dari dapur sendiri ini, LDII Kalsel berharap masyarakat dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan Banua. (Rel)



